Saatnya Kita Waspada Dan Katakan 'Tidak' Pada Setan
Muhsin Hariyanto (Dosen Tetap FAI-UMY)
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesunguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (QS Al-baqarah 2 : 208 )
Mengutip Ali ibn Utsman al-hujwiri, menyatakan : "Ada seseorang yang bernama Abu Halim Habib bin Salim al-Ra'i salah seorang sahabat Salman al-Farisi. Ia dengan Keshalihannya bisa " Menjinakan " segrombolan serigala yang benar-benar telah meneteskan air liutnya ketika meliha biri-birinya yang ia gembalakan di tepi sungai eufrat. Menurutnya, hal itu mampu dikerjakannya karena dalam seluruh hidupnya hasratnya selalu ia selaraskan dengan ketaatannya kepada Allah dan Rosulullah s.a.w, bahkan, dikisahkan pula, ketika ada seseorang yang memintannya untuk memberi nasihat, Abu Halim Habib bin Salim al-Ra'i berkata dengan penuh kearifan " Janganlah kau jadikan hatimu menjadi keranjang keinginan hawa nafsumu dan janganlah kau jadikan perutmu menjadi periuk barang-barang haram" . Demikian kurang lebih apa yang ditulis oleh Ali ibn Utsman al-hujuwiri tertentang Abu Halim Habib bin Salim al-Ra'i dalam bukunnya "Kasyful mahjub ".
Kisah itu, menurutnya adalah kejadian faktual, bukan sekedar olah imajinasi dari penulisnya, meskipun validitasnya bisa saja diragukan, karena dikutip dengan tanpa penelitian yang cermat layaknya sebuah penelitian yang cermat layaknya sebuah penelitian Hadist dengan metode takhrij, atau menggunakan metode kritik sejarah. Namun penulis justru berfikir, jangan-janan yang disebut "Srigala" dan " Biri-biri" oleh al-Hujwiri dalm Kasyful Mahjub, bukan sekedar biri-biri dalam pengertian hakiki. Tetapi, lebih jauh dari itu adalah 'srigala' dan 'biri-biri' dalam pengertian majazi (metaforik). Hingga penulis berfikir, bahwa benar yang dimaksud al-Hujwiri adalah 'srigala' dan 'biri'biri' dalam pengertian nmajazi itu masih banyak berkeliaran, dan harus juga mendapatkan perhatian. Sebab mereka (srigala-srigala ) banyak yang sudah sangat piawai menyamar untuk menjadi (solah-olah) 'biri-biri yang sangat lembut, dan bahkan lebih mempesona dari pada 'biri-biri' yang menjadi (calon) mangsanya. Dan oleh karenanya, kita saat ini perlu banya belajar pada al-Ra'i, bagaimana cara menjinakkan jamaah srigala dan menyelamatkan jamaah biri-biri konteporer, yang tentu saja membutuhkan 'kearifan prima' untuk mengidentifikasi, dan untuk selanjutnya menyikapinya dengan sikap proporsional. Jangan pernah tertipu oleh "setan". Apalagi setan-setan kontemporer yang sudah banyak belajar dari pengalaman mereka dalam menggoda umat manusia.
Zaman telah berubah dan akan selalu berubah. Tetapi esensi masalah yang dihadapi manusia dari zaman ke zaman selalu tidak akan berubah, tetap ada dan dalam banyak hal justru menajdi semakin kompleks.
Dan rosulullah saw pernah memprediksi: "Akan datang kepada manusia suatu masa, dimana orang tiada oeduki aka apa yang diambilnya apakah dari yang halal ataukah dari yang haram". (Bukhori, Ahmad, Ibnu Hibban, Baihaqi, ad-Darimi dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah).
Pada zaman kegaulan ini, banyak orang termasuk di dalamnya umat islam nampaknya masih 'gamang' untuk membuat garis demarkasi yang jelas terhadap " setan-setan" yang selalu siap menggodanya. Dengan tipu dayannya yang sangat lembut, rencana busuk para setan itu kini' nyaris' tak terdeteksi oleh radar-radar manusia. Manusia dalam banyak hal belu, bisa menarikgaris demarkasi kekuatan setan yang korup otoriter, dengan kekuatan dirinya yang dengan fitrahnya selalu berkeinginan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Bahkan, banyak diantara mereka" ada" yang justru "terkesima" oleh penampila artifisial para setan, yang mengawali kiprah mereka dengan misalnya melakukan "operasi plastik ". Menyamar menjadi seolah-olah sekumpulan orang shalih yang layak dihormati.
Ada dua pendekatan sederhana untuk melacak 'setan-setan' kontemporer, yaitu :
Perama, "Pendekatan Rezim " dan "pendekatan aktor". Ketika kita bicara tentang rezim, sebabnya kita sedang membicarakan mengenai sebuah nilai. Salah satu karakteristik 'rezim setan', adalah tindakan korup dan otoritr. Karena itu, sikap tegas kita adalah tidak memberi ruang bagi "rezim korup dan otoriter " itu. Celakanya, kini sikap koruptif tersebut tidak hanya menjadi hak paten aktor dan kelompok pendukung 'setan'. Tetapi sudah menjangkit dalam sikap dan konstruksi pemikiran sebagian dari diri kita. Semesrinya, hari ini kita harus menegaskan bahwa sikap dan pola 'setan' yang diterapkan oleeh siapa pun berarti ia bagian dari konstruksi setan-setan itu.
Apakah corak struktur kultur atau perilaku masyarakat itu sendiri ?. Sebab, menjadi sebuah fenomena paradoks ketika kita membenci 'setan' yang korup dan otoriter, tetapi pada saat yang sama kita melanggengkan struktur, kultur dan perilaku tersebut.
Kedua, Mengidentifiasi aktor utamanya sangat jelas, yaitu "iblis". Puncak piramida struktur kekuasaan 'setan' adalah 'iblis'. Jika kitabersepakat intuk mengatakan bahwa rezim setan adalah rezim' korup dan otoriter', kita harus membuat garis demakarsi yang jelas dengan para setan itu. Dan, tidak ada kata kompromi bagi rezim "predator" itu. Pengadilan terhadap 'setan-setan', sampai kepada 'iblis' (sang inspirator) menjadi salah satu taruhan. kita harus berani mengedepankan semangat 'zero-tolerance', Tidak boleh ada sedikitpuntoleransi terhadap sestan.
Kini saatnya kita belajar untuk menjadi orang 'bisa' menjadikan diri kita sebagai orang 'arif, seperti Abu Halim Habib bin Salim AL-Ra'i, di tengah gelombang kehidupan yang terlalu banyak memberi peluang bagi 'para setan' (termasuk para pengikutnya) yang dengan piawainya menghandalkan kekuatan hawa nafsunya dengan segenap tipu dayanya untuk (selalu) menjadi pemenang dan pada saat yang sama selalu memojokan diri kita untuk menjadi pecundang.
Jadilah Pemenag, dengan membuat garis demarkasi yangjelas untuk sama sekali tidak bertasamuh (tidak boleh ada sedikit pun toleransi terhadap setan ). Now or not at all : al-an, au la 'ala alithlaq : Sekarang, atau tidak sama sekali!
KATAKAN 'TIDAK' PADA SETAN
Disudut-sudut kampung, kadang kita dapati tulisan dalam bentuk spanduk yang berbunyi : "Kawasan ANTI MAKSIAT". Sebuah tulisan yang mengisyaratkan bahwa seluruh warga diimbau untuk tidak melakukan tindakan apa pun bermakna maksiat, yang dikenal dalam khazanah budaya Jawa dengan sebutan "mo limo", singkatan daru "maling, madat, minum, madon lan main". Kurang lebih dalam bahasa indonesia bisa diterjemahkan dengan sikap "Antipencurian, antirokok (candu), antiminuman keras, antiprotitusi dan anti perjudian" dalam segala bentuk derivasinya. Dan di kampus, pada salah satu sudut terpampang sebuah spanduk berukuran besar bertuliskan " say no to drug ". Sebuah sikap yang memerlukan komitmen tinggi dari seluruh komunitas yang berada pada kawasan tersebut.
Kalau di kampung dan kampus, orang begitu apresiatif terhadap pesan moral pada spanduk itu, kenapa masih benyak orang yang masih belum, paham terhadap imbauan para ulama dan tokoh masyarakat untuk tidak bersikap toleran terhadap segala sesuatu yang memang tidak selayaknya disikapi (sikap) "tasamuh?". Apakah belum saatnya umat ini menyatakan "tidak" terhadap sesuatu yang harus disikapi dengan sikap "tidak"?
Dan bahkan pertanyaan radikalnya : "Apakah umat ini boleh dilarang untuk menyatakan yang haram adalah haram, dan yang halal adalah halal?". padahal Rosululloh saw, dalam Hadist yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari (Sahabat) An-Nu'man bin Basyir, pernah menyatakan : " Innal halala bayyin, wa innal harama bayyin... " (yang halal dan yang haram sudah [sangat] jelas), dan kita umat islam, tinggal menyikapinya dengan tegas, seperti apa yang dinyatakan oleh Allah dalam Qs Al- Baqarah [2[:208:"... wa la tattabi u khuthuwatisy syaithan..." (Jangan sampai kamu sekalian mengikuti langkah-langkah setan) dan juga bisa simak firman- Nya dalam Qs Al-Baqarah [2] :256: " qad tabayyanar rusydu minal ghayyi" (sesungguhnya sudah jelas sesuatu yang benar karika dikomprasikan dengan sesuatu yang sesat).
Umat ini sebenarnya susdah memiliki standar baku dalam hal yang terkait dengan sikap keberagamaannya. Ada sesuatu yang masuk dalam kategori 'atstsawabit' (semua hal yang tak mungkin berubah dan diubah untuk selamanya ), yang di dalam istilah ushul fiqihnya dikenal dengan al- Qath'iyyat (sesuatu yang sudah pasti), atau dengan sebutan 'mutawir 'amaliy' (serangkaian Hadist yang sudah menjadi sesuatu yang diamalkan intisari ajarannya secara kolektif, dan tak pernah dipertanyakan keabsahannya). Seperti : " keabsahan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad saw sebaai Nabi dan Rosul terakhir" sebagaimana halnya kewajiban sholat lima waktu yang secara kolektif disepakati dalam bentuk ijma'. Semua itu tak mungkin diusik, apalagi digugat keabsahannya oleh seseorang atau kelompok orang dengan mengatas namakan "islam" sekalipun.
Andaikata ada yang berani mengusik atau menggugat keabsahannya, jangan salahkan bila resistensi atas usikan dan gugatan itu akan menjadi sesuatu yang sulit dibendung. Umat islam, pada umumnya, akan menjadi 'gerah' dan bisa jadi 'marah', dan sulit dikendalikan, karena keyakinannya sudah diusik dan digugat oleh orang-orang yang dianggap melawan arus besar pemahaman (dogmatik) mereka. Jangan bimbang dan ragu untuk menyatakan bahwa setan adalah setan, dan jangan sampai terkecoh oleh 'jubah' mereka yang konsmetikal. Jangan katakan yag 'halal' menjadi 'haram', dan sebaliknya yang 'haram' menjadi 'halal'. Tetaplah kita Konsiste